Di Wales, Inggris, sebuah badai besar pernah merobohkan salah satu pohon tertinggi di negara tersebut seekor Douglas Fir raksasa dengan tinggi hampir 50 meter yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Pohon ini menjadi bagian penting dari lanskap hutan di Vyrnwy, sebuah kawasan alam yang dikenal dengan vegetasi tua dan pepohonan monumental. Keruntuhan pohon tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang sebuah organisme yang telah menjadi bagian dari ekosistem lokal selama generasi.
Alih-alih pohon itu dibersihkan atau ditebang habis, seniman asal Wales, Simon O’Rourke (@simonorourke), memutuskan mengukir ulang batang raksasa itu menjadi karya seni monumental. Dari batang besar setinggi puluhan meter tersebut, ia menciptakan figur tangan kolosal yang seolah bangkit dari tanah dan menjulang ke arah langit. Karya ini diberi nama “The Giant Hand of Vyrnwy,” sebuah judul yang mencerminkan skala dan makna simbolis dari patung tersebut.
Proses kreatif ini melibatkan teknik ukir kayu skala besar yang jarang digunakan dalam konteks pekerjaan lanskap alam terbuka. Batang pohon yang tersisa setelah badai diolah menggunakan peralatan ukir industri dan alat manual untuk mempertahankan tekstur kayu asli. Proporsi tangan dibuat sebanding dengan batang yang tersisa, dengan ketinggian akhir mencapai lebih dari 10 meter, menjadikannya salah satu ukiran kayu outdoor terbesar di Inggris.
Karya ini tidak hanya menjadi penghormatan pada pohon yang telah tumbang, tetapi juga transformasi ekologis dari objek mati menjadi monumen seni publik. Tekstur kayu Douglas Fir yang keras memberikan daya tahan terhadap cuaca, memungkinkan patung ini bertahan bertahun-tahun di ruang terbuka. Dengan posisinya yang strategis di dalam kawasan hutan, patung ini menjadi penanda visual yang kuat bagi pengunjung Vyrnwy.
The Giant Hand of Vyrnwy membawa gagasan mendalam tentang regenerasi dan hubungan manusia dengan alam. Melalui bentuk tangan yang mengarah ke langit, Simon mengekspresikan simbol harapan, kebangkitan, dan keberlanjutan. Karya ini berdiri sebagai pernyataan bahwa bahkan ketika alam tampak runtuh atau terluka, masih ada potensi untuk melahirkan makna, kecantikan, dan kehidupan baru.