Rancangan Surya Majapahit karya JOSO Team resmi meraih juara pertama Sayembara Masterplan Museum Majapahit. Tim ini terdiri dari delapan perancang, yaitu @thoatfauzi, @fathurrohman.hm, @baiqlisawahyulina, @kholili.alif, @ininikini, @rifqiadj, @wast.rizki, dan @yoga_adtama. Karya ini dinilai unggul karena mampu menerjemahkan sejarah dan kosmologi Majapahit ke dalam strategi perancangan kawasan yang konseptual sekaligus aplikatif.
Konsep utama Surya Majapahit berangkat dari simbol kosmologi Majapahit, yang diwujudkan melalui delapan sumbu utama mengacu pada arah mata angin. Delapan sumbu ini berfungsi sebagai kerangka spasial kawasan, mengatur orientasi bangunan, sirkulasi pengunjung, serta hubungan antar-ruang, sekaligus melambangkan keseimbangan kosmis yang menjadi fondasi pemikiran arsitektur Nusantara klasik.
Setiap sumbu tidak hanya bersifat geometris, tetapi juga naratif. Ia menjadi pengikat antara ruang luar, ruang pamer, dan lanskap arkeologis, sehingga masterplan terbaca sebagai satu kesatuan sistem. Pendekatan ini mencerminkan cara Majapahit memandang tata ruang sebagai refleksi hubungan antara manusia, alam, dan semesta sebuah prinsip kosmologis yang telah berkembang sejak abad ke-14.
Narasi ruang dalam museum dirancang menggunakan pendekatan reverse chronology atau kronologi terbalik. Perjalanan pengunjung dimulai dari fase runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, lalu secara bertahap ditarik mundur untuk menelusuri lapisan sejarah, artefak, temuan arkeologis, dan kehidupan sosial masyarakatnya.
Alur ini membawa pengunjung menuju periode puncak kejayaan Majapahit, yang secara historis berlangsung sejak berdirinya kerajaan pada tahun 1293 M hingga masa keemasan di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada fase ini, Majapahit tampil sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya Nusantara, dengan wilayah pengaruh yang meluas ke berbagai kepulauan.
Melalui pendekatan simbolik dan naratif tersebut, Surya Majapahit tidak sekadar berfungsi sebagai masterplan kawasan museum, tetapi sebagai pengalaman arsitektural yang edukatif dan imersif. Desain ini menyatukan nilai sejarah, filosofi kosmologi, dan kebutuhan ruang kontemporer, sehingga Museum Majapahit diharapkan menjadi ruang hidup yang relevan—bukan hanya sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi sebagai medium pemahaman peradaban bagi generasi masa kini dan masa depan.