Desain kereta gantung Unitsky tengah diperkenalkan sebagai salah satu sistem transportasi urban baru yang akan menghubungkan kawasan Mekarsari, Cileungsi, dengan Stasiun LRT Harjamukti di Depok. Rute sepanjang ±11,5 kilometer ini direncanakan menjadi jalur feeder yang menghubungkan permukiman padat menuju jaringan LRT Jabodebek. Dengan estimasi kebutuhan angkutan hingga 12.000–15.000 penumpang per jam per arah pada koridor tersebut, proyek ini berpotensi menjadi elemen penting dalam peningkatan konektivitas kawasan Jabodetabek yang terus berkembang.
Teknologi yang digunakan bernama Unitsky String Transport (UST) atau SSLRT, yaitu sistem rel melayang yang ditopang oleh kabel kuat dan struktur elevated. Rel string ini memiliki kemampuan menahan beban dinamis tinggi dengan defleksi rendah, serta mampu mengakomodasi kecepatan operasional 100–150 km/jam tergantung tipenya. Pada implementasi urban biasanya dibatasi di kisaran 60–80 km/jam demi keamanan. Desain elevated ini memungkinkan pemanfaatan lahan kota lebih efisien hingga 80% dibandingkan jalur transportasi konvensional berbasis roda.
Keandalan keberlanjutan menjadi elemen penting desainnya. Struktur rel menggantung berada pada elevasi ±10–15 meter dari permukaan tanah sehingga tidak mengganggu ruang publik dan vegetasi di bawahnya. Konsumsi energi sistem Unitsky juga relatif rendah, sekitar 0,1–0,25 kWh per penumpang-kilometer, lebih hemat dibandingkan bus diesel yang rata-rata berada di 0,35–0,45 kWh per penumpang-kilometer. Dengan jejak emisi CO₂ lebih kecil, transportasi ini mendukung target pengurangan emisi kota besar.
Penyusunan studi kelayakan proyek dilakukan oleh PT Minsky Cakrawala Nusa bersama Malcon Group dan Unitsky Nusantara Technologies sebagai mitra teknologi. Pembiayaan seluruh proyek dilakukan oleh pihak swasta, sehingga tidak membebani APBN maupun APBD. Skema pendanaan ini menargetkan periode konstruksi sekitar 24–30 bulan setelah persetujuan final, dengan estimasi biaya rata-rata infrastruktur systems-based sekitar USD 10–15 juta per kilometer nilai yang kompetitif dibandingkan monorel atau LRT elevated yang dapat mencapai USD 20–50 juta per kilometer.
Dari sisi keamanan, teknologi Unitsky dirancang dengan standar multilayer safety system yang mencakup sistem pengereman otomatis, pengendalian kecepatan real-time, dan redundansi kabel utama. Setiap unit kabin diperkirakan mampu menampung 12–18 penumpang, dengan headway (jarak antar-unit) dapat diatur hingga 40–60 detik. Tingkat getaran kabin juga dibuat rendah dengan deviasi gerak lateral di bawah 5 cm untuk menjaga kenyamanan pengguna. Faktor-faktor ini menjadikan sistem kereta gantung ini kompetitif dengan moda transportasi urban modern lainnya.
Penerapan teknologi Unitsky di Jabodetabek diharapkan dapat menghadirkan solusi mobilitas yang cepat, aman, dan efisien serta menjadi model pengembangan desain transportasi masa depan di Indonesia. Integrasi antara jalur elevated ringan, konsumsi energi rendah, dan kemampuan menjangkau kawasan padat penduduk menjadikan sistem ini menarik untuk direplikasi di kota besar lain. Jika berhasil diimplementasikan, proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam inovasi transportasi urban yang memadukan efisiensi ruang kota, keberlanjutan, dan desain arsitektur transportasi generasi baru.