Di pesisir timur laut Brasil, tepatnya di Pirangi do Norte dekat kota Natal, berdiri salah satu fenomena botani paling menakjubkan di dunia: Cajueiro de Pirangi, pohon mete raksasa yang pada pandangan udara tampak seperti hutan kecil. Pohon tunggal ini membentang seluas sekitar 7.300–8.500 m², setara dengan hampir satu blok kota atau lebih dari satu lapangan sepak bola standar FIFA (±7.140 m²). Usianya diperkirakan mencapai 130 tahun, menjadikannya aset ekologis sekaligus ikon wisata regional.
Keunikan pohon ini terletak pada mekanisme pertumbuhannya yang tidak lazim. Cabang-cabang yang tumbuh mendatar perlahan menunduk karena beratnya, menyentuh tanah, lalu membentuk akar baru. Setelah mengakar kuat, cabang itu berkembang seperti batang utama dan memunculkan percabangan baru. Siklus ini berulang selama puluhan tahun, membuat pohon meluas horizontal hingga ratusan meter. Dari segi genetika, seluruh “hutan” ini merupakan organisme tunggal dengan sistem jaringan yang sama.
Secara struktural, Cajueiro de Pirangi memiliki tinggi rata-rata 8–10 meter dengan ribuan cabang yang saling terhubung. Sistem perakarannya tersebar luas namun dangkal, karena pertumbuhan horizontal lebih dominan daripada pertumbuhan vertikal. Pola ini memperkuat kemampuan pohon bertahan dari angin kencang pesisir yang dapat mencapai 50–60 km/jam pada musim tertentu. Dengan sistem akar yang tersebar, pohon ini juga mampu menyerap nutrisi dari area yang sangat luas.
Pohon ini memiliki kemampuan produksi buah yang mengesankan. Dalam satu musim panen, Cajueiro de Pirangi menghasilkan puluhan ribu buah mete, dengan estimasi mencapai 70.000–80.000 buah per tahun. Buah mete (jambu mete) dan kacangnya dijual kepada pengunjung dan masyarakat sekitar, menjadi sumber ekonomi lokal yang turut memperkuat identitas wilayah. Produktivitas tinggi ini berkaitan langsung dengan luasnya tajuk dan banyaknya titik pertumbuhan baru.
Dari perspektif wisata dan arsitektur lanskap, area pohon telah dikembangkan sebagai ruang eksplorasi publik dengan jalur setapak kayu yang memungkinkan pengunjung berjalan di bawah “kanopi hutan” milik satu pohon. Tempat ini menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya. Pada tahun tertentu, Pemerintah Rio Grande do Norte mencatat kunjungan mencapai 300.000–400.000 wisatawan, menjadikan fenomena botani ini salah satu destinasi alam paling terkenal di Brasil.
Cajueiro de Pirangi telah tercatat secara resmi di Guinness World Records sebagai pohon mete terbesar di dunia, sebuah pengakuan internasional terhadap keunikan biologisnya. Kehadiran pohon tunggal berukuran raksasa ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana interaksi antara genetika, lingkungan, dan adaptasi alam dapat menghasilkan struktur hidup yang menyerupai lanskap kecil. Bagi arsitektur lanskap dan desain ekologis, pohon ini memberikan inspirasi tentang bagaimana bentuk alami dapat membentuk ruang, menciptakan keteduhan, dan membangun hubungan kuat antara ekologi dan identitas tempat.